Don't Forget to Leave Comment


Sabtu, 17 Oktober 2015

ETIKA DALAM BISNIS

ETIKA BISNIS

Etika menurut bahasa Yunani berasal dari kata ethos yang memiliki arti sikap, perasaan, akhlak, kebiasaan dan watak, sedangkan bisnis diartikan sebagai suatu usaha. Jika kedua kata dipadukan, yaitu etika bisnis, maka dapat di definisikan sebagai suatu tata cara yang dijadikan sebagai suatu acuan dalam menjalankan kegiatan berbisnis. Dimana dalam tata cara tersebut mencakup segala macam aspek, baik dari individu, institusi, kebijakan, serta perilaku berbisnis.
Etika bisnis adalah pemikiran atau refleksi tentang moralitas dalam ekonomi dan bisnis. Moralitas berarti aspek baik atau buruk, terpuji atau tercela dari perilaku mmanusia. Moralitas berkaitan dengan apa yang dilakukan manusia, dan kegiatan ekonomis merupakan suatu bidang perilaku manusia yang penting.
Etika dalam berbisnis sangatlah diperlukan, dengan etika suatu perusahaan dapat mengetahui jati diri kita dan dapat juga memberikan keputusan apakah kita sudah layak bekerja dalam perusahaan tersebut. Berpegang teguh dalam etika ataupun moral bisnis, kita mampu bersaing dengan perusahaan lain tanpa menyakiti pihak lain. Apabila mempergunakan etika dengan baik, maka akan memberikan dampak positif terhadap bisnis yang kita jalani dan perusahaan orang lain.
Etika bisnis membentuk nilai, norma dan perilaku karyawan serta pimpinan perusahaan dalam membangun hubungan yang adil dan sehat dengan pelanggan/mitra kerja, pemegang saham, masyarakat. Bisnis yang baik adalah bisnis yang beretika. Bisnis yang beretika itu adalah bisnis dengan kinerja unggul dan berkesinambungan dan dijalankan dengan menaati kaidah-kaidah etika sejalan dengan hukum dan peraturan yang berlaku.
Etika bisnis dapat menjadi standar dan pedoman bagi seluruh karyawan termasuk manajemen dan menjadikannya sebagai pedoman untuk menjalankan pekerjaan sehari-hari dengan dilandasi moral yang luhur, jujur, transparan dan sikap yang profesional. Setiap tindakan yang dilakukan harus didasarkan pada konsekuensinya.


Tujuan Etika Bisnis
            Tujuan etika bisnis adalah untuk menjalankan dan menciptakan sebuah bisnis yang adil serta menyesuaikan hukum yang telah dibuat. Selain itu, juga untuk menghilangkan ketergantungan pada sebuah kedudukan individu maupun perusahaan.

Fungsi Etika Bisnis
            Fungsi etika bisnis adalah dapat mengursngi dana yang diakibatkan dari pencegahan yang kemungkinan terjadinya friksi atau perpecahan baik dari intern perusahaan itu sendiri maupun ekstern. Selain itu juga berfungsi untuk membangkitkan motivasi pekerja agar terus meningkat, melindungi prinsip dalam kebebasan berdagang serta dapat menciptakan keunggulan dalam bersaing.

Dibawah ini merupakan 10 etika bisnis yang harus dimiliki pebisnis unggul dan yang mau sukses dalam usahanya, diantaranya:
  1. Jujur dan tidak berbohong
  2. Bersikap dewasa dan tidak kekanak-kanakan
  3. Lapang dada dalam cara berkomunikasi
  4. Menggunakan panggilan atau sebutan nama orang dengan baik
  5. Menggunakan pesan bahasa yang efektif dan efisien
  6. Tidak mudah emosi atau emosional
  7. Berinisiatif sebagai pebisnis pembuka dialog
  8. Berbahasa yang baik, ramah dan sopan
  9. Menggunakan pakaian yang pantas dan menyesuaikan keadaan
  10. Bertingkah laku yang baik




Lingkungan Bisnis yang Mempengaruhi Etika
Lingkungan bisnis adalah segala sesuatu yang mempengaruhi aktivitas bisnis dalam suatu lembanga organisasi atau perubahan. Faktor – faktor yang mempengaruhi lingkungan bisnis adalah :

  1. Lingkungan internal
Segala sesuatu didalam organisasi atau perusahaan yang akan mempengaruhi organisasi atau perusahaan tersebut.

  1. Lingkungan Eksternal
Segala sesuatu di luar batas-batas organisasi atau perusahaan yang mempengaruhi organisasi atau perusahaan.

Perubahan lingkungan bisnis yang semakin tidak menentu dan situasi bisnis yang semakin komperatif menimbulkan pesaingan yang semakin tajam, ini di tandai dengan semakin banyaknya perusahaan milik pemerintah atau swasta yang didirikan baik itu perusahaan berskala besar, perusahaan menengah, maupun perusahaan berskala kecil.
Tujuan dari sebuah bisnis kecil adalah untuk tumbuh dan menghasilkan uang.Untuk melakukan itu, penting bahwa semua karyawan di papan dan bahwa kinerja mereka dan perilaku berkontribusi pada kesuksesan perusahaan.Perilaku karyawan, bagaimanapun, dapat dipengaruhi oleh faktor eksternal di luar bisnis.Pemilik usaha kecil perlu menyadari faktor-faktor dan untuk melihat perubahan perilaku karyawan yang dapat sinyal masalah, antara lain:
a)      Budaya Organisasi
Keseluruhan budaya perusahaan dampak bagaimana karyawan melakukan diri dengan rekan kerja, pelanggan dan pemasok. Lebih dari sekedar lingkungan kerja, budaya organisasi mencakup sikap manajemen terhadap karyawan, rencana pertumbuhan perusahaan dan otonomi / pemberdayaan yang diberikan kepada karyawan. “Nada di atas” sering digunakan untuk menggambarkan budaya organisasi perusahaan. Nada positif dapat membantu karyawan menjadi lebih produktif dan bahagia. Sebuah nada negatif dapat menyebabkan ketidakpuasan karyawan, absen dan bahkan pencurian atau vandalisme.
b)     Ekonomi Lokal
Melihat seorang karyawan dari pekerjaannya dipengaruhi oleh keadaan perekonomian setempat. Jika pekerjaan yang banyak dan ekonomi booming, karyawan secara keseluruhan lebih bahagia dan perilaku mereka dan kinerja cermin itu. Di sisi lain, saat-saat yang sulit dan pengangguran yang tinggi, karyawan dapat menjadi takut dan cemas tentang memegang pekerjaan mereka.Kecemasan ini mengarah pada kinerja yang lebih rendah dan penyimpangan dalam penilaian. Dalam beberapa karyawan, bagaimanapun, rasa takut kehilangan pekerjaan dapat menjadi faktor pendorong untuk melakukan yang lebih baik.
c)      Reputasi Perusahaan dalam Komunitas
Persepsi karyawan tentang bagaimana perusahaan mereka dilihat oleh masyarakat lokal dapat mempengaruhi perilaku. Jika seorang karyawan menyadari bahwa perusahaannya dianggap curang atau murah, tindakannya mungkin juga seperti itu. Ini adalah kasus hidup sampai harapan. Namun, jika perusahaan dipandang sebagai pilar masyarakat dengan banyak goodwill, karyawan lebih cenderung untuk menunjukkan perilaku serupa karena pelanggan dan pemasok berharap bahwa dari mereka.
d)     Persaingan di Industri
Tingkat daya saing dalam suatu industri dapat berdampak etika dari kedua manajemen dan karyawan, terutama dalam situasi di mana kompensasi didasarkan pada pendapatan. Dalam lingkungan yang sangat kompetitif, perilaku etis terhadap pelanggan dan pemasok dapat menyelinap ke bawah sebagai karyawan berebut untuk membawa lebih banyak pekerjaan. Dalam industri yang stabil di mana menarik pelanggan baru tidak masalah, karyawan tidak termotivasi untuk meletakkan etika internal mereka menyisihkan untuk mengejar uang.
Saling Ketergantungan antara Bisnis dan Masyarakat
Perusahaan yang merupakan suatu lingkungan bisnis juga sebuah organisasi yang memiliki struktur yag cukup jelas dalam pengelolaannya. ada banyak interaksi antar pribadi maupun institusi yang terlibat di dalamnya. Dengan begitu kecenderungan untuk terjadinya konflik dan terbukanya penyelewengan sangat mungkin terjadi. baik di dalam tataran manajemen ataupun personal dalam setiap tim maupun hubungan perusahaan dengan lingkungan sekitar. untuk itu etika ternyata diperlukan sebagai kontrol akan kebijakan, demi kepentingan perusahaan itu sendiri. Oleh karena itu kewajiban perusahaan adalah mengejar berbagai sasaran jangka panjang yang baik bagi masyarakat.
Berikut adalah beberapa hubungan kesaling tergantungan antara bisnis dengan masyarakat.
  1. Hubungan antara bisnis dengan langganan / konsumen
Hubungan antara bisnis dengan langgananya adalah hubungan yang paling banyak dilakukan, oleh karena itu bisnis haruslah menjaga etika pergaulanya secara baik. Adapun pergaulannya dengan langganan ini dapat disebut disini misalnya saja :
-          Kemasan yang berbeda-beda membuat konsumen sulit untuk membedakan atau mengadakan perbandingan harga terhadap produknya.
-          Bungkus atau kemasan membuat konsumen tidak dapat mengetahui isi didalamnya
-          Pemberian servis dan terutama garansi adalah merupakan tindakan yang sangat etis bagi suatu bisnis.
  1. Hubungan dengan karyawan
Manajer yang pada umumnya selalu berpandangan untuk memajukan bisnisnya sering kali harus berurusan dengan etika pergaulan dengan karyawannya. Pergaulan bisnis dengan karyawan ini meliputi beberapa hal yakni : Penarikan (recruitment), Latihan (training), Promosi atau kenaikan pangkat, Tranfer, demosi (penurunan pangkat) maupun lay-off atau pemecatan / PHK (pemutusan hubungan kerja).
  1. Hubungan antar bisnis
Hubungan ini merupakan hubungan antara perusahaan yang satu dengan perusahan yang lain. Hal ini bisa terjadi hubungan antara perusahaan dengan para pesaing, grosir, pengecer, agen tunggal maupun distributor.
d.      Hubungan dengan Investor
Perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas dan terutama yang akan atau telah “go publik” harus menjaga pemberian informasi yang baik dan jujur dari bisnisnya kepada para insvestor atau calon investornya. prospek perusahan yang go public tersebut. Jangan sampai terjadi adanya manipulasi atau penipuan terhadap informasi terhadap hal ini.
e.       Hubungan dengan Lembaga-Lembaga Keuangan
Hubungan dengan lembaga-lembaga keuangan terutama pajak pada umumnya merupakan hubungan pergaulan yang bersifat finansial. Hubungan ini merupakan hubungan yang berkaitan dengan penyusunan laporan keuangan. Laporan finansial tersebut haruslah disusun secara baik dan benar sehingga tidak terjadi kecendrungan kearah penggelapan pajak atau sebagianya. Keadaan tersebut merupakan etika pergaulan bisnis yang tidak baik.
Kepedulian Pelaku Bisnis Terhadap Etika
            Para pelaku bisnis dituntut agar peduli terhadap keadaan masyarakat, tidak hanya melalui sumbangan dalam bentuk uang, tetapi harus lebih kompleks lagi. Pada kesempatan yang dimiliki pelaku bisnis untuk menjual pada tingkat harga yang tinggi sewaktu terjadinya excess demand , yang harus diperhatikan bagi pelaku bisnis adalah tidak berusaha untuk meraup keuntungan yang berlipat ganda. Dalam keadaan excess demand ini para pelaku bisnis agar mampu memanifestasikan sikap tanggung jawab sosial terhadap masyarakat. Para pelaku bisnis juga diharapkan mampu untuk mengaplikasikan etika bisnis dalam menjalankan usahanya. Etika bisnis mampu memberikan nilai positif terhadap perusahaan. Hal ini dapat meningkatkan reputasi perusahaan tersebut sehingga bisnis yang dijalankan berjalan dengan baik. Bisnis yang baik bukan hanya bisnis yang menguntungkan, melainkan bisnis tersebut juga bisnis yang baik secara moral.

Perkembangan dalam Etika Bisnis
Etika bisnis pertama kali timbul di amerika serikat di tahun 1970an dan cepat meluas kebelahan dunia lain. Berabad-abad lamanya etika di bicarakan secara ilmiah membahas mengenai masalah ekonomi dan bisnis sebagai salah satu topik penting untuk dikembangkan di zaman bisnis modern. Filsafat berkembang dizaman filsuf plato, aristoteles, dan filsuf-filsuf yunani lain membahas bagaimana pengaturan interaksi kehidupan bisnis manusia bersama dalam negara, ekonomi dan kegiatan niaga. Filsafat dan teologi zaman pertengahan serta kelompok kristen maupun islam tetap membahas hal yang dianggap penting tersebut. Moralitas ekonomi dan bisnis merupakan pembahas intensif filsafat dan teknologi zaman modern. Para ilmuwan filsuf dan pebisnis amerika serikat dan negara lain di dunia mendiskusikan etika bisnis sehubungan dengan konteks agama dan teologi sampai sekarang.
Perkembangan etika bisnis 1980-an di eropa barat etika bisnis sebagai ilmu baru berkembang kira-kira sepuluh tahun kemudian, diawali oleh inggris yang secara geografis maupun kultural paling dekat dengan amerika serikat, disusul kemudian oleh negara-negara eropa barat lainnya. Kini etika bisnis bisa dipelajari, dan di kembangkan di seluruh dunia. Kita mendengar tentang kehadiran etika bisnis di amerika latin, asia, eropa timur, dan dikawasan asia lainnya. Sejak dimulainya liberalisasi ekonomi di eropa timur, dan runtuhnya sistem politik dan ekonomi komunisme tahun 1980-an, rusia dan negara ekskomunis lainnya merasakan manfaat etika bisnis, pemahaman etika bisnis mendorong perahlihan sistem sisalis ke ekonomi pasar bebas berjalan lebih lancar. Etika bisnis sangat diperlukan semua orang dan sudah menjadi kajian ilmiah meluas dan dalam etika bisnis semakin dapat di sejajarkan diantara ilmu-ilmu lain yang sudah mapan dan memiliki ciri-ciri khusus sebagai sebuah cabang ilmu. Keprihatinan moral terhadap bisnis kini memasuki tahapan yang lebih maju dari sekedar ukuran tradisonal. Zaman multinasional konglomerat dan korparasi sedang berkembang secara signifikan. Kini masyarakat berada dalam fase perkembangan bisnis dan ekonomi kapitalisme semenjak kejahtuhan sistem komunisme, maka kapitalisme berkembang pesat tanpa timbul hambatan yang berarti. Kini bisnis telah menjadi besar meninggalkan bisnis tradisonal yang semakin terdesak bahkn teraksisi. Kekayaan mayolitas perusahaan swasta di berbagai negara dapat melebihi kekayaan negara.

Etika Bisnis dan Akuntan
            Seorang Akuntan harus memiliki kode etik. Dimana kode etik ini sebagai alat untuk klien, pemakai laporan keuangan atau masyarakat pada umumnya, tentang kualitas atau mutu jasa yang diberikannya. Akuntan yang profesional harus memiliki 3 kewajiban, yaitu kompetensi, objektif dan mengutamakan integritas. Harus kita akui bahwa akuntansi itu adalah bisnis, tujuan dari bisnis itu sendiri adalah memaksimalkan keuntungan. Jika hal ini dilakukan tanpa memperhatikan etika, maka akan hasilnya merugikan. Dalam menjalankan profesinya seorang Akuntan di Indonesia diatur oleh suatu kode etik profesi dengan nama kode etik Ikatan Akuntan Indonesia. Dibawah ini ada beberapa kode etik Akuntan Indonesia menurut (Mulyadi, 2001:53), sebagai berikut:
  1. Tanggung Jawab Profesi
Setiap anggota harus menggunakan pertimbangan moral dan profesional dalam semua kegiatan yang dilakukan. Seluruh anggota juga harus bertanggungjawab untuk bekerja sama dengan sesama anggota untuk mengembangkan profesi akuntansi.
  1. Kepentingan Publik
Setiap anggota senantiasa bertindak dalam kerangka pelayanan terhadap publik dan menunjukkan komitmen atas profesionalisme.
  1. Integritas
Integritas merupakan kualitas yang melandasi kepercayaan publik dan merupakan patokan bagi anggota untuk menguji keputusan yang diambilnya.
  1. Obyektivitas
Prinsip obyektivitas mengharuskan anggota untuk bersikap adil, tidak memihak, jujur secara intelektual, tidak berprasangka, dan bebas dari benturan atau dibawah pengaruh pihak lain.
  1. Kompetensi dan Kehati-hatian Profesional
Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya dengan berhati-hati, kompetensi dan ketekunan, serta mempunyai kewajiban untuk mempertahankan pengetahuan dan ketrampilan profesional pada tingkat yang diperlukan untuk memastikan bahwa klien atau pemberi kerja memperoleh manfaat dari jasa profesional dan teknik yang paling mutakhir.
  1. Kerahasiaan
Setiap anggota harus menghormati kerahasiaan informasi yang diperoleh selama melakukan jasa profesional dan tidak boleh memakai atau mengungkapkan informasi tersebut tanpa persetujuan, kecuali bila ada hak atau kewajiban profesional atau hukum untuk mengungkapkannya. Kewajiban kerahasiaan berlanjut bahkan setelah hubungan antar anggota dan klien atau pemberi jasa berakhir.
  1. Perilaku Profesional
Setiap anggota harus berperilaku yang konsisten dengan reputasi profesi yang baik dan menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi.
  1. Standar Teknis
Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya sesuai dengan standar teknis dan standar profesional yang relevan. Sesuai dengan keahliannya dan dengan berhati-hati, anggota mempunyai kewajiban untuk melaksanakan penugasan dari penerima jasa selama penugasan tersebut sejalan dengan prinsip integritas dan obyektivitas.




KASUS
Adapun kasus pelanggaran yang berkaitan dengan etika dalam bisnis khususnya dalam hal etika periklanan, yaitu kasus pelanggaran yang dilakukan oleh PT Gudang Garam (Tbk) sebagai berikut :
Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat berdasarkan tugas dan kewajiban yang diatur dalam Undang-Undang No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran (UU Penyiaran), pengaduan masyarakat, pemantauan dan hasil analisis telah menemukan pelanggaran Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3 dan SPS) Komisi Penyiaran Indonesia Tahun 2012 pada Program Siaran Iklan Niaga rokok “Gudang Garam” yang ditayangkan oleh stasiun TV One pada tanggal 10 Mei 2014 pada pukul 19.43 WIB.
Program tersebut menampilkan iklan rokok di bawah pukul 21.30. Jenis pelanggaran ini dikategorikan sebagai pelanggaran terhadap perlindungan kepada anak-anak dan remaja serta larangan dan pembatasan muatan rokok.
KPI Pusat memutuskan bahwa tindakan penayangan tersebut telah melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran Komisi Penyiaran Indonesia Tahun  2012  Pasal 14 dan Pasal 43 serta Standar Program Siaran Komisi Penyiaran Indonesia Tahun 2012 Pasal 15 ayat (1), Pasal 58 ayat (1) dan Pasal 59 ayat (1). Menurut catatan KPI Pusat, program ini telah menerima Surat Teguran Tertulis Pertama No.953/K/KPI/05/14 tertanggal 5 Mei 2014.
Berdasarkan pelanggaran di atas KPI Pusat memutuskan menjatuhkan sanksi administratif Teguran Tertulis Kedua. Atas pelanggaran ini KPI Pusat akan terus melakukan pemantauan dan meningkatkan sanksi yang lebih berat jika tetap melanggar ketentuan jam tayang iklan rokok.
Sesuai dengan PP Nomor 50 Tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Lembaga Penyiaran Swasta, penayangan iklan rokok disiang hari jelas melanggar pasal 21 ayat (3) Iklan Rokok pada lembaga penyelenggara penyiar radio dan televisi hanya dapat disiarkan pada pukul 21.30 sampai dengan pukul 05.00 waktu setempat dimana lembaga penyiaran tersebut berada.
Kemudian juga sesuai dengan Etika Pariwara Indonesia menyatakan dalam wahana iklan melalui media televisi, yaitu iklan-iklan  rokok  dan  produk  khusus  dewasa  (intimate  nature) hanya  boleh  disiarkan  mulai  pukul  21.30  hingga  pukul  05.00 waktu setempat.

SOLUSI
Solusi untuk kasus pelanggaran etika dalam bisnis khususnya etika periklanan yang dilakukan oleh PT Gudang Garam (Tbk), yakni dipasal 57 menyebut Lembaga Penyiaran Swasta yang menyelenggarakan siaran iklan rokok diluar ketentuan sebagaimana dimaksud pada Pasal 21 ayat (3) dikenai sanksi administrasi berupa denda administrasi untuk jasa penyiaran radio paling banyak Rp. 100.000.000 (seratus juta rupiah), dan untuk jasa penyiaran televisi paling banyak Rp. 1.000.000.000 (satu milyar rupiah).

PEMBAHASAN
Menurut Etika Pariwara Indonesia, “Iklan ialah pesan komunikasi pemasaran atau komunikasi publik tentang sesuatu produk yang disampaikan melalui suatu media, dibiayai oleh pemrakarsa yang dikenal, serta ditujukan kepada sebagian atau seluruh masyarakat”.
Menurut Sony Keraf (1993 : 142), menyatakan bahwa dalam iklan kita dituntut untuk selalu mengatakan  hal  yang  benar  kepada konsumen  tentang  produk  sambil membiarkan  konsumen  bebas  menentukan untuk  membeli  atau  tidak  membeli produk itu.
Iklan dan pelaku periklanan harus :
-          Jujur, benar, dan bertanggungjawab.
-          Bersaing secara sehat.
-          Melindungi dan menghargai khalayak, tidak  merendahkan  agama, budaya, negara, dan golongan, serta tidak bertentangan dengan  hukum yang berlaku.
Iklan  yang  menyatakan  kebenaran dan  kejujuran  adalah  iklan  yang  beretika. Akan  tetapi,  iklan  menjadi  tidak  efektif, apabila  tidak mempunyai  unsur  persuasif. Akibatnya,  tidak  akan  ada  iklan  yang  akan menceritakan  the whole truth  dalam  pesan iklannya. Sederhananya,  iklan  pasti  akan mengabaikan informasi-informasi yang bila disampaikan kepada pemirsanya malah akan membuat pemirsanya tidak  tertarik  untuk menjadi konsumen produk atau jasanya.
Untuk membuat konsumen tertarik, iklan harus dibuat menarik bahkan kadang dramatis. Tapi iklan tidak diterima oleh target tertentu (langsung). Iklan dikomunikasikan kepada khalayak luas (melalui media massa komunikasi iklan akan diterima oleh semua orang : semua usia, golongan, suku, dsb). Sehingga iklan harus memiliki etika, baik moral maupun bisnis.
Dalam dunia periklanan, para pelaku iklan mempunyai sumber daya manusia yang mayoritas memiliki tingkat kreatifitas yang unik dan menarik, yang dapat divisualisasikan dalam bentuk visual (video, gambar, ilustrasi, dan tulisan) atau pun dalam bentuk audio (suara).
Di Indonesia, sangat menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan etika pada setiap perilaku kehidupan sehari-hari. Tentunya hal ini membuat para pelaku iklan juga harus mematuhi apa saja yang telah diatur dalam UU Penyiaran atau UU Pariwara Indonesia yang telah diatur agar sejalan dengan nilai-nilai sosial-budaya masyarakat.

KESIMPULAN
Berdasarkan inti uraian pembahasan, yaitu mengenai kasus pelanggaran etika dalam bisnis khususnya dalam hal etika periklanan yang telah dilakukan oleh PT Gudang Garam (Tbk) terkait tindakan penayangan tersebut yang telah melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran Komisi Penyiaran Indonesia Tahun  2012  Pasal 14 dan Pasal 43 serta Standar Program Siaran Komisi Penyiaran Indonesia Tahun 2012 Pasal 15 ayat (1), Pasal 58 ayat (1) dan Pasal 59 ayat (1). Sehingga pihak KPI Pusat melayangkan Surat Teguran Tertulis Pertama No.953/K/KPI/05/14 tertanggal 5 Mei 2014. Yang mana apabila pelaku iklan (PT Gudang Garam (Tbk)) tidak mengindahkan atau mengabaikannya maka KPI Pusat akan memutuskan menjatuhkan sanksi administratif Teguran Tertulis Kedua. Atas pelanggaran ini KPI Pusat akan terus melakukan pemantauan dan meningkatkan sanksi yang lebih berat jika tetap melanggar ketentuan jam tayang iklan rokok.


SARAN
Saran yang dapat dikemukakan adalah sebaiknya pelaku iklan (PT Gudang Garam (Tbk)) harus mematuhi apa saja yang telah diatur dalam UU Penyiaran atau UU Pariwara Indonesia yang telah diatur agar sejalan dengan nilai-nilai sosial-budaya masyarakat. Seperti Pedoman Perilaku Penyiaran Komisi Penyiaran Indonesia Tahun  2012  Pasal 14 dan Pasal 43 serta Standar Program Siaran Komisi Penyiaran Indonesia Tahun 2012 Pasal 15 ayat (1), Pasal 58 ayat (1) dan Pasal 59 ayat (1). PT. Gudang Garam Tbk. Ataupun produk rokok maupun produk khusus dewasa sebaiknya memang menayangkan produknya diatas jam 21.30 waktu setempat atau baiknya lagi jika ditayangkan pada pukul 00.00 dimana anak-anak dan remaja sudah tidak lagi menonton televisi. Karena apabila produk tersebut menanyangkan dibawah dari ketentuan KPI dapat mengakibatkan dampak buruk terhadap anak-anak yang menontonnya, iklan tugasnya mempersuasif atau istilahnya mempengaruhi agar tertarik untuk membeli atau mencobanya, apabila iklan rokok tersebut ditayangkan pada pukul dimana anak-anak masih aktif menonton televisi maka berakibat terjadinya pelanggaran terhadap perlindungan anak-anak dan remaja. Iklan dan pelaku periklanan harus melindungi khalayak.

Rabu, 20 Mei 2015

KALIMAT AKTIF & KALIMAT PASIF

ACTIVE VOICE AND PASSIVE VOICE

Active voice is a sentence in which the subject is doing the work. Active voice is more often used in everyday life compared with the passive voice.
Kalimat aktif adalah kalimat dimana subject-nya melakukan pekerjaan. Active voice lebih sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari dibandingkan dengan passive voice.
Passive voice is a grammatical construction (grammatical forms) where the subject of the sentence is not to take action, but rather accept the action or follow-up (receiver of action) by another agent (DOER of action) either mentioned or not. In contrast, the active construction, a subject directly related to the verb to act as agents of action. Active voice can be transformed into passive, but only transitive verb (followed by direct object) that can be enforced so. Passive sentences in which the subject of his sentence subject to the work by the object. However, we often find passive voice in newspapers, articles in magazines and scholarly writings. Passive voice is used as the object of active voice is more important information than the subject.
kalimat pasif adalah suatu grammatical construction (bentuk gramatikal) dimana subject kalimat tidak melakukan aksi, melainkan menerima aksi atau ditindaklanjuti (receiver of action) oleh agent lain (doer of action) baik disebutkan ataupun tidak.  Sebaliknya, pada konstruksi active, subject berhubungan langsung dengan verb dengan bertindak sebagai pelaku aksi. Kalimat aktif dapat ditransformasi menjadi pasif, namun hanya transitive verb (diikuti direct object) yang dapat diberlakukan demikian. Kalimat passive dimana subject-nya dikenai pekerjaan oleh object kalimat. Namun demikian, sering kita temukan passive voice di surat-surat kabar, artikel-artikel di majalah-majalah dan tulisan-tulisan ilmiah. Passive voice digunakan karena object dari active voice merupakan informasi yang lebih penting dibandingkan dengan subject-nya.
Example :
•           Active : We fertilize the soil every 6 months
•           Passive: The soil is fertilized by us every 6 months
Dari contoh ini dapat kita lihat bahwa:
1.         Object dari active voice (the soil) menjadi subject dari passive voice
2.         Subject dari active voice (we) menjadi object dari passive voice. Perhatikan pula bahwa terjadi perubahan dari subject pronoun ‘we’ menjadi object pronoun ‘us’.
3.         Verb1 (fertilize) pada active voice menjadi verb3 (fertilized) pada passive voice.
4.         Ditambahkannya be ‘is’ di depan verb3. Be yang digunakan adalah tergantung pada subject passive voice dan tenses yang digunakan. (Perhatikan pola-pola passive voice di bawah).
5.         Ditambahkannya kata ‘by’ di belakang verb3. Namun, jika object dari passive voice dianggap tidak penting atau tidak diketahui, maka object biasanya tidak dikemukakan dan begitu pula kata ‘by’.
6.         Khusus untuk kalimat-kalimat progressive (present, past, past perfect, future, past future, dan past future perfect continuous, perlu menambahkan ‘being’ di depan verb3). Kalau tidak ditambahkan “being”, tensisnya akan berubah, bukan progressive/continuous lagi. Perhatikan contoh-contoh pada poin h – o di bawah.

Berdasarkan keenam poin di atas maka passive voice mengikuti pola sebagai berikut:
Subject + be + Verb3 + by + Object + modifier

Pola active dan passive voice pada tiap tensis
  1. Jika active voice dalam simple present tense, maka ‘be’ passive voice-nya adalah is, am atau are.
Example:
•           Active : He meets them everyday.
•           Passive : They are met by him everyday.
•           Active : She waters this plant every two days.
•           Passive : This plant is watered by her every two days.

  1. Jika active voice dalam simple past tense, maka ‘be’ passive voice-nya adalah was atau were
Example:
•           Active : We watched the Jurasic Park Movie on the cinema yesterday.
•           Passive : The Jurasic Park Movie was watched by us yesterday.
•           Active : She watered this plant this morning
•           Passive : This plant was watered by her this morning


  1. Jika active voice dalam present perfect tense, maka ‘be’ passive voice-nya adalah been yang diletakkan setelah auxiliary has atau have, sehingga menjadi ‘has been’ atau ‘have been’
Example:
•           Active : He has met them
•           Passive : They have been met by him
•           Active : She has watered this plant for 5 minutes.
•           Passive : This plant has been watered by her for 5 minutes.

  1. Jika active voice dalam past perfect tense, maka ‘be’ passive voice-nya adalah been yang diletakkan setelah auxiliary had, sehingga menjadi had been
Example:
•           Active : I had informed him the news before he went..
•           Passive : He had been informed the news by me before he went.
•           Active : She had watered this plant for 5 minutes when I got here
•           Passive : This plant had been watered by her for 5 minutes when I got here

  1. Jika active voice dalam simple future tense, maka ‘be’ passive voice-nya adalah be
Example:
•           Active : He will meet them tomorrow.
•           Passive : They will be met by him tomorrow.
•           Active : The farmers are going to harvest the crops next week
•           Passive : The crops are going to be harvested by the farmers next week.

  1. Jika active voice dalam future perfect tense, maka ‘be’ passive voice-nya adalah been yang diletakkan setelah auxiliary will have, sehingga menjadi ‘will have been’
Example:
•           Active : He will have met them before I get there tomorrow.
•           Passive : They will have been met by him before I get there tomorrow.
•           Active : She will have watered this plant before I get here this afternoon.
•           Passive : This plant will have been watered by her before I get here this afternoon.

  1. Jika active voice dalam past future perfect tense, maka ‘be’ passive voice-nya adalah been yang diletakkan setelah auxiliary would have, sehingga menjadi ‘would have been’.
Example:
•           Active : He would have met them.
•           Passive : They would have been met by him.
•           Active : She would have watered this plant.
•           Passive : This plant would have been watered by her.

  1. Jika active voice dalam present continuous tense, maka ‘be’ passive voice-nya adalah (is, am atau are) + being.
Example:
•           Active : He is meeting them now.
•           Passive : They are being met by him now.
•           Active : She is watering this plant now.
•           Passive : This plant is being watered by her now.

  1. Jika active voice dalam past continuous tense, maka ‘be’ passive voice-nya adalah (was atau were) + being.
Example:
•           Active : He was meeting them.
•           Passive : They were being met by him.
•           Active : Kadek was asking me the question yesterday.
•           Passive : I was being asked the question by Kadek.

  1. Jika active voice dalam perfect continuous tense, maka ‘be’ passive voice-nya adalah (has/have) been + being.
Example:
•           Active : He has been meeting them.
•           Passive : They have been being met by him.
•           Active : She has been watering this plant.
•           Passive : This plant has been being watered by her.

  1. Jika active voice dalam past perfect continuous tense, maka ‘be’ passive voice-nya adalah had been + being.
Example:
•           Active : I had been being watching the show for 2 hours.
•           Passive : The show had been being watched by me for 2 hours.
•           Active : We had been waiting for him for 4 hours when he came.
•           Passive : He had been being waited for by us for 4 hours when he came.

  1. Jika active voice dalam future continuous tense, maka ‘be’ passive voice-nya adalah will be + being.
Example:
•           Active : He will be meeting them.
•           Passive : They will be being met by him.
•           Active : She will be watering this plant.
•           Passive : This plant will be being watered by her.

  1. Jika active voice dalam past future continuous tense, maka ‘be’ passive voice-nya adalah would be + being.
Example:
•           Active : He would be meeting them.
•           Passive : They would be being met by him.
•           Active : She would be watering this plant.
•           Passive : This plant would be being watered by her.

  1. Jika active voice dalam future perfect continuous tense, maka ‘be’ passive voice-nya adalah will have been + being.
Example:
•           Active : He will have been meeting them.
•           Passive : They will have been being met by him.
•           Active : She will have been watering this plant.
•           Passive : This plant will have been being watered by her.

  1. Jika active voice dalam past future perfect continuous tense, maka ‘be’ passive voice-nya adalah would have been + being.
Example:
•           Active : He would be meeting them.
•           Passive : They would be being met by him.
•           Active : She would be watering this plant.

•           Passive : This plant would be being watered by her.

Minggu, 19 April 2015

SKILL 2: STRUCTURE AND WRITTEN EXPRESSION

SKILL 2:        BE CAREFULL OF PAST PARTICPLES
Past participles can cause confusion in the Structure section of the TOEFL test because a past participle can be either an adjective or a part of a verb. The past participle is the form of the verb that appears with have or be. It often ends in -ed, but there are also many irregular past participles in English. (See Appendix F for a list of irregular past participles.)
For example:
1.         The family has purchased a television. (verb)
2.         The poem was written by Paul. (verb)
In the first sentence the past participle purchased is part of the verb because it is accompanied by has. In the second sentence the past participle written is part of the verb because it is accompanied by was.
A past participle is an adjective when it is not accompanied by some form of be or have.
For example:
1.         The television purchased yesterday was expensive. (adjective)
2.         The poem written by Paul appeared in the magazine. (adjective)
In the first sentence purchased is an adjective rather than a verb because it is not accompanied by a form of be or have (and there is a verb, was, later in the sentence). In the second sentence written is an adjective rather than a verb because it is not accompanied by a form of be or have (and there is a verb, appeared, later in the sentence).
The following example shows how a past participle can be confused with the verb in the structure section of the TOEFL test.
The packages____ mailed at the post office will arrive Monday.
(A) have
(B) were
(C) them
(D) just
In this example, if you look only at the first few words of the sentence, it appears that packages is the subject and mailed is either a complete verb or a past participle that needs a helping verb. But if you look further in the sentence, you will see that the verb is will arrive. You will then recognize that mailed is a participial adjective and is therefore not part of the verb. Answers (A) and (B) are incorrect because mailed is an adjective and does not need a helping verb such as have or were. Answer (C) is incorrect because there is no need for the object them. Answer (D) is the best answer to this question.
EXERCISE:
Each of the following sentences contains one or more past participles. Underline the subjects once and the verbs twice. Circle the past participles and label them as adjectives or verbs. Then indicate if the sentences are correct (C) or incorrect (I).
________ 1. The money was offered by the client was not accepted. 
________ 2. The car listed in the advertisement had already stalled.   
________ 3. The chapters were taught by the professor this morning will be on next week’s exam.  
________ 4. The loaves of bread were baked in a brick oven at a low temperature for many hours.  
________ 5. The ports were reached by the sailors were under the control of a foreign nation.          
________ 6. Those suspected in the string of robberies were arrested by police.         
________7.The pizza is served in this restaurant is the tastiest in the country.          
________ 8. The courses are listed on the second page of the brochure have several prerequisites.    
________ 9. All the tenants were invited to the Independence Day barbecue at the apartment             complex.       
________ 10. Any bills paid by the first of the month will be credited to your account by the next day.

Answer key:
____I____ 1. The money was offered by the client was not accepted. 
____C____ 2. The car listed in the advertisement had already stalled.   
____I____ 3. The chapters were taught by the professor this morning will be on next week’s exam.  
____C____ 4. The loaves of bread were baked in a brick oven at a low temperature for many hours.  
____I____ 5. The ports were reached by the sailors were under the control of a foreign nation.          
____C____ 6. Those suspected in the string of robberies were arrested by police.         
____I____7.The pizza is served in this restaurant is the tastiest in the country.          
____I____ 8. The courses are listed on the second page of the brochure have several prerequisites.    
____C____ 9. All the tenants were invited to the Independence Day barbecue at the apartment             complex.       
____C____ 10. Any bills paid by the first of the month will be credited to your account by the next day.

Noted:
Block as Subject
Block and underline as verb
Italic as past particple


SKILL1: STRUCTURE AND WRITTEN EXPRESSION

SKILL 1:        BE CAREFULL OF PRESENT PARTICIPLES
A present participle is the -ing form of the verb (talking, playing). In the Structure section of the TOEFL test a present participle can cause confusion because it can be either a part of the verb or an adjective. It is part of the verb when it is preceded by some form of the verb be.
For examples:
1.         The man is talking to his friend. (verb)
2.         The man talking to his friend has a beard. (adjective)
In this sentence talking is an adjective and not part of the verb because it is not accompa-nied by some form of be. The verb in this sentence is has.
The following example shows how a present participle can be confused with the verb in the Structure section of the TOEFL test.
The child ____ playing in the yard is my son.
(A) now
(B) is
(C) he
(D) was
In this example, if you look at only the first words of the sentence, it appears that child is the subject and playing is part of the verb. If you think that playing is part of the verb, you might choose answer (B), is, or answer (D), was, to complete the verb. However, these two answers are incorrect because playing is not part of the verb. You should recognize that playing is a participial adjective rather than a verb because there is another verb in the sentence (is). In this sentence there is a complete subject (child) and a complete verb (is), so this sentence does not need another subject or verb. The best answer here is (A).

EXERCISE:
Each of the following sentences contains one or more present participles. Underline the subjects once and the verbs twice. Circle the present participles and label them as adjectives or verbs. Then indicate if the sentences are correct (C) or incorrect (I).
_______1. The companies offering the lowest prices will have the most customers.
_______2. Those travelers are completing their trip on Delta should report to Gate Three.
_______3. The artisans were demonstrating various handicrafts at booths throughout the fair.
_______4. The fraternities are giving the wildest parties attract the most new pledges.
_______5. The first team winning four games is awarded the championship.
_______6. The speaker was trying to make his point was often interrupted vociferously.
_______7. The fruits were rotting because of the moisture in the crates carrying them to market.
_______8. Any students desiring official transcripts should complete the appropriate form.
_______9. The advertisements were announcing the half-day sale received a lot of attention.
_______10. The spices flavoring the meal were quite distinctive.

Answer Key
____C___1. The companies offering the lowest prices will have the most customers.
____I___2. Those travelers are completing their trip on Delta should report to Gate Three.
____C___3. The artisans were demonstrating various handicrafts at booths throughout the fair.
____I___4. The fraternities are giving the wildest parties attract the most new pledges.
____C___5. The first team winning four games is awarded the championship.
____I___6. The speaker was trying to make his point was often interrupted vociferously.
____C___7. The fruits were rotting because of the moisture in the crates carrying them to market.
____C___8. Any students desiring official transcripts should complete the appropriate form.
____I___9. The advertisements were announcing the half-day sale received a lot of attention.
____C___10. The spices flavoring the meal were quite distinctive.


Noted:
Bold as subject
Bold and underline as verb
Italic as present participle

 










Reference:

Selasa, 06 Januari 2015

DISKUSI BERSAMA BNN DAN UKM HINDU UNIVERSITAS GUNADADARMA

DISKUSI BERSAMA BNN DAN UKM HINDU UNIVERSITAS GUNADADARMA

Unit Kegiatan Hindu Universitas Gunadarma pada tanggal 27 Oktober 2014 menyelenggarakan kegiatan diskusi bersama Badan Narkotika Nasional dengan tema “Partisipasi Aktif Pemuda-Pemudi dalam Pemberantasan dan Penyalahgunaan Narkoba”. Diskusi ini berlangsung di Pura Prajapati Purna Pralina Korps Brimob, Kelapa Dua, Depok.
Pembicara dalam diskusi ini adalah Kombes Pol. Slamet Pribadi, Kasubdit Heroin Deputi Pemberantasan BNN. Peserta dalam diskusi ini dihadiri oleh Mahasiswa Hindu Universitas Gunadarma, Universitas Indonesia, IISIP, Universitas Pancasila, serta Pemuda Hindu Pura Depok dan sekitarnya. Selain itu, hadir juga Ketua Dewan Pimpinan Peradah Indonesia,  Kementrian Dalam Negeri yaitu Dr. Suresh Kumar, S.Ag dan Ketua Organisasi Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia di Jakarta yaitu I Made Sandy Nugraha yang juga merupakan alumnus Universitas Gunadarma.
Kegiatan diskusi ini bertujuan untuk mempererat persaudaraan di antara Mahasiswa Hindu di lingkungan Universitas Gunadarma maupun di luar lingkungan Universitas Gunadarma. Kegiatan ini juga bertujuan untuk menambah wawasan dan pengetahuan mengenai narkoba. Saya yang merupakan bagian dari UKM Hindu Gunadarma pun ikut merasa beruntung karena dapat berdiskusi langsung dengan Kasubdit Heroin Deputi Pemberantasan BNN, Kombes Pol. Slamet Pribadi.
Kombes Pol. Slamet Pribadi menceritakan pengalaman-pengalamannya sebagai Ketua Tim Penyidik BNN saat melakukan operasi narkoba di suatu Universitas Swasta di daerah Pasar Minggu dimana bandar dan kurir narkoba dilakukan oleh Mahasiswa abadi, Mahasiswa Drop Out, alumni, dan Mahasiswa Senior yang memprovokasi Mahasiswa Junior mereka menyembunyikan narkoba tersebut di ventilasi, saya juga sempat menonton di 86 bagaimana tim penyidik saat menggerebek ke kampus tersebut, dan benar saja disana terdapat alumni yang berada di dalam ruangan khusus sedang tertidur, saat polisi menggeledah didapati beberapa senapan, dan saat polisi menggeledah alumni tersebut, alumni tersebut mengelak denngan alasan bahwa ia adalah seorang pengacara, hukum tetap hukum jadi harus dilaksanakan mau tidak mau, saat digeledah tidak didapati apa-apa, tetapi saat polisi membalikkan sofa, disana terdapat ganja, dan saat anjing pecak melacak sekeliling ruangan ditemukan juga narkoba.  Bapak Slamet Pribadi juga menceritakan tentang jenis dan bahaya narkoba bila dikonsumsi manusia, serta membahas UU RI No.35 Tahun 2009 tentang Narkotika, tugas-tugas pokok BNN melaksanakan kebijakan nasional mengenai pencegahan narkoba
Setelah penyampaian materi dan tanya jawa, acara dilanjutkan dengan pembekalan motivasi oleh Entrepreneur Wahyu Surya Jaya Negara, S.Psi. yang juga alumnus jurusan Psikologi Universitas Gunadarma. Dimana motivasi yang saya tangkap yaitu:
-Break Your Limit
-Selalu naikkan patokan prestasi
-GAGAL kado indah bagi orang SUKSES
-Hidup harus berjalan